September
2009
Dari Ubadah bin ash-Shamit ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Barangsiapa bangun diwaktu malam lalu dia membaca, ‘Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puji, Dia Maha Berkuasa diatas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.’ Kemudian dia membaca, ‘Ya Allah, ampunilah aku’, atau dia berdo’a maka do’anya dikabulkan, jika dia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya diterima.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah
(Shahih At-Targhib wa At-Tarhib jilid 2 karya Syaikh al-Mundziri yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, 2007: 59. Jakarta: Pustaka Sahifa)
Dari Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan ra, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang hamba Muslim shalat karena Allah disetiap hari dua belas rakaat sunnah bukan fardhu, kecuali Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. Atau, kecuali dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’I dan at-Tirmidzi, dan dia menambahkan, “Empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh”
(Shahih At-Targhib wa At-Tarhib jilid 2 karya Syaikh al-Mundziri yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, 2007: 31. Jakarta: Pustaka Sahifa)
Hendaklah seseorang tidak meninggalkan shalat tarawih dan pergi sebelum imam selesai daripadanya dan dari shalat witir agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: “Sesungguhnya seseorang yang shalat bersama imam sampai selesai dicatat baginya shalat seluruh malam.” HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban. Al-Albani menyatakan shahih.
(Fiqih Ramadhan by Abdullah Shaleh Al-Hadrami, 2009: 27. Malang: Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah)
Kalau suatu saat anda naik motor dan menjumpai tikungan tajam, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi kecepatan karena ingin cepat sampai? Atau, anda mengurangi kecepatan sedikit, menikung dengan miring dan sesudah berbelok baru menambahkan kecepatan sedikit demi sedikit? By Ustadz Fauzil Adhim
Saya membaca novel sandiwara langit dan membuat secuil resensi singkatnya beberapa bulan yang lalu. Hanya saja baru hari ini bisa mempostingnya sebagai sarana mempromosikan salah satu buku bagus anak bangsa. Dan tanpa saya duga, beberapa pekan terakhir ini, novel tersebut begitu santer dibicarakan oleh beberapa ikhwan-akhwat di kampus. Bahkan kemarin sore, (sesuai jadwal publikasi) sekitar pukul 15.30 novel tersebut dibedah langsung oleh sang penulis Abu Umar Basyier di kedokteran UB Malang.
Entahlah… apa yang membuat novel ini menarik (walaupun tidak seheboh karya-karya kang Abik). Saya belum melakukan survey kepada teman-teman. Bisa jadi karena ‘propaganda’ untuk segera menikah. Atau karena diambil dari kisah nyata. Mungkin tentang penggambaran karakter pelaku cerita. Bahkan karena jalan ceritanya yang “iih… wow”. Dan alasan-alasan lain yang tidak saya ketahui.
Saya sendiri menganggap novel ini ‘BIASA’. Karena memang ceritanya sangat umum. Cerita-cerita fiksi maupun non-fiksi serupa sudah banyak beredar. Apalagi dari segi penulisannya, terutama berkaitan dengan diksinya, gak terlalu ‘lebay’ seperti umumnya novel (sesuai dengan tujuan penulis). Hanya saja disisi lain saya merasa novel ini ‘LUAR BIASA’. Karena novel ini MEMOTIVASI saya untuk MENIKAH. Mungkin ini bukan pertama kalinya saya termotivasi untuk (segera) menikah setelah membaca novel-novel sejenis. Tapi ini adalah novel pertama yang membuat saya benar-benar yakin bahwa sebelum menikah, saya harus ‘siap’ dalam agama. Baru kemudian memutuskan untuk (segera) menikah. Sehingga menikah tidak lagi menjadi euphoria masa muda (apalagi ‘hanya’ karena teman-teman banyak yang sudah menikah). Tapi benar-benar pilihan hidup dengan segala konsekuensinya.
Nikah, memang bukan akhir perjalanan atau semata-mata dianggap sebagai buah dari perjalanan ‘puasa’. Namun justru menjadi awal perjalanan baru dengan segala warna-warninya sebagai suatu fragmen yang ‘biasa’ terjadi dalam kehidupan manusia. Suatu ladang amal yang ‘istimewa’ bagi yang mengetahui ‘rahasianya’.
Let’s go… ‘CERDAS MENIKAH’…
hehehe…
Sandiwara Langit, novel karya Abu Umar Basyier yang sederhana dalam penulisan namun isinya syarat makna. Subhanalloh, kisah yang dipaparkan mampu menjadi penyubur iman didalam dada karena memang bertabur hikmah, walaupun disajikan dengan gaya bahasa yang biasa. Cerita dalam novel ini diangkat dari sebuah kisah nyata, tentang perjalanan rumah tangga sebuah keluarga yang identitasnya disamarkan oleh penulis.
Adalah Rizqaan, pemuda lulusan SMA berusia 18 tahun yang kepahaman agamanya melebihi kepahaman agama pemuda-pemuda seusianya. Saat itu, dia ingin menikah karena khawatir terjebak dalam perzinaan, bila harus menunda menikah lebih lama lagi. Tanpa menikah, dirinya merasa tidak mampu menahan godaan syahwat walaupun telah telaten berpuasa Dawud dalam satu tahun belakangan, sampai akhirnya dia menyampaikan niat menikah tersebut kepada Ustadznya.
Dan Halimah adalah muslimah sholehah yang dipilihnya sebagai pendamping hidupnya. Orang tua Halimah pun bersedia menikahkan putri satu-satunya itu dengan Rizqaan, namun dengan sebuah syarat. Apakah syarat tersebut? Dan bagaimana perjalanan rumah tangga keduanya? Penasaran? Silahkan mencomot novel ini ditoko buku kesayangan anda dan jangan lupa bayar ke kasir sebelum membacanya. Semoga membawa barokah. ![]()
“Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain disini saling menyapa –dan berkelana bersama untuk sejenak. Lalu kita saling kehilangan dan senyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tidak masuk akalnya seperti ketika kita datang ke dunia.”